
Dipojok kanan kamar sewaanku, di samping jendela tepatnya, terdapat sebuah rak yang beberapa bulan lalu sengaja aku tempel disana untuk tempat sekumpulan buku-ku. Jumlahnya tidak banyak tapi buku tersebut terpaksa saling tumpang tindih karena raknya yang terlalu kecil. Entah kenapa pada sore itu aku merasa perlu untuk memerhatikan itu. Satu persatu buku kuperiksa hanya dengan tatapan mata hingga berhentilah pada sebuah buku yang berketebalan 400 halaman lebih. Jelek sekali, pikirku. Bukan. Bukan jelek sampulnya, isinya, buku secara keseluruhan aalagi penulis dan penerbitnya. Tapi fisiknya.

